Pidato Selengkapnya
MUSYAWARAH PUSAT DAN RAPAT KERJA I KONSORSIUM MASYARAKAT PENGUSAHA PAPUA
SALINAN REKAMAN SAMBUTAN WAKIL PRESIDEN RI DALAM RANGKA PERESMIAN PEMBUKAAN MUSYAWARAH PUSAT DAN RAPAT KERJA I KONSORSIUM MASYARAKAT PENGUSAHA PAPUA DI ISTANA WAKIL PRESIDEN, JAKARTA
Bismillahirahmaanirahiim
Saudara Menteri UKM, Pimpinan dan Panitia Musyawarah Pusat Konsorsium Masyarakat Pengusaha Papua, Saudara-saudara sekalian, Assalamualaikum Wr. Wb., salam sejahtera untuk kita semua.
Pertama-tama saya ingin menyampaikan rasa gembira dan terima kasih dapat bertemu dengan masyarakat pengusaha Papua. Saya sangat bangga karena pertemuan ini adalah pertemuan yang pertama kita berbicara khusus tentang dunia usaha. Pada saat Pak Suebu menjadi Ketua KADIN, pada saat Saudara Morin di KADIN, kita banyak berbicara tentang dunia usaha, tetapi akhir-akhir ini pertemuan-pertemuan seperti itu telah jarang dilakukan. Karena itu saya merasa bergembira bahwa pada hari ini kita dapat bertemu kembali dalam nuansa dunia usaha, dapat berbicara tentang masalah riil, masalah kesejahteraan, masalah bagaimana membuat kegiatan-kegiatan yang penting untuk meningkatkan kemampuan dan kesejahteraan kita.
Sebagaimana telah dibicarakan tadi, kita semua memahami makna tentang bagaimana Papua mendapatkan dan menjalankan otonomi khusus untuk meningkatkan kondisi, kemampuan daerah, masyarakat di daerah, juga kemampuan mengelola hasil-hasil alam secara lebih baik daripada sebelumnya, dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat bagi seluruh masyarakat di Papua. Itulah tujuan pokok yang telah kita sepakati bersama, dan telah menjadi suatu kebijakan bangsa secara bersama-sama.
Masalahnya setelah itu ialah untuk meningkatkan kemampuan dan pengelolaan dibutuhkan inisiatif-inisiatif, dibutuhkan inovasi, dibutuhkan kemampuan dan dibutuhkan enterpreneurship dari kita semua. Kalau otonomi khusus tapi sumber-sumber industri, pertambangan, perdagangan, pasar-pasar, toko-toko, belum banyak yang dikerjakan langsung oleh masyarakat asli Papua, itu artinya masih dibutuhkan waktu. Karena itu kita harus mempercepat dan segera memulai upaya peningkatan kemampuan masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas meningkatkan kesejahteraan itu. Orang-orang dari kampung saya, orang Bugis, orang Makassar dengan sangat bangga dengan sangat senang hati bekerja bersama-sama sampai ke pelosok-pelosok Papua sebagai pengusaha. Tapi hal itu baru akan jauh lebih baik apabila saling bahu membahu dengan masyarakat asli Papua, bersama-sama duduk di toko, di pasar, di industri, di kebun, dan sebagainya. Kalau masyarakat Papua belum punya toko, belum punya angkutan, belum punya usaha menengah, belum menjadi kontraktor dan sebagainya, maka artinya kita semua harus banyak mendorong dan memberikan kemampuan itu kepada masyarakat Papua, setelah itu barulah kemampuan pengelolaan kekayaan alam dapat kita laksanakan dengan sebaik-baiknya diantara seluruh unsur-unsur di masyarakat. Dalam pengelolaan itu tidak bisa hanya dengan aturan demi aturan, tidak bisa hanya dengan undang-undang, tidak bisa hanya dengan Keppres, tapi harus dengan jiwa dan juga upaya untuk mendorong peningkatan kemampuan masyarakat Papua.
Kalau kita berbicara tentang dunia usaha tentu kita bicara tentang usaha, kita bicara tentang pengusaha, kita bicara tentang enterpreneur. Sering orang bertanya, apakah pengusaha itu dilahirkan? Artinya apakah masyarakat dilahirkan untuk menjadi pengusaha? Ataukah hanya memang orang Bugis atau orang Padang saja yang bisa jadi pengusaha? Itu sama sekali tidak betul. Tuhan adil terhadap semua, menurunkan bakat yang bermacam-macam kepada kita, tetapi yang bisa merubah diri kita adalah diri kita sendiri. Apakah menjadi pengusaha itu dapat diperoleh melalui pendidikan? bisa iya, bisa tidak! Kalau pengusaha itu hasil didikan, maka kita dirikan saja fakultas pengusaha, atau sekolah tinggi pengusaha atau fakultas ekonomi untuk menghasilkan pengusaha-pengusaha, tidak juga. Kalau pengusaha adalah hasil didikan maka pengusaha yang terbaik adalah para profesor-profesor, padahal banyak profesor bila disuruh dagang dia tidak bisa berdagang, begitu kan. Justru lebih banyak pengusaha sukses ternyata sekolahnya hanya setingkat SMP, SMA, Bapak saya pengusaha besar sekolahnya hanya kelas 6 SD, tetapi, dia bisa menjadi pengusaha. Tapi banyak juga pengusaha yang tinggi pendidikannya. Menurut saya, alangkah hebatnya kalau seseorang berkemauan menjadi pengusaha dan sekolahnya juga baik, itu lebih hebat lagi.
Sebenarnya pengusaha merupakan gabungan antara kemauan, pendidikan dan juga suasana. Apa sebabnya orang bisa menjadi pengusaha yang baik tergantung dari suasana, mau belajar dan latihan. Saya selalu mengumpamakan bagaimana orang belajar berusaha, mulai berusaha, sama dengan orang belajar berenang atau belajar naik sepeda. Kita boleh baca semua buku dan teori-teori tentang berenang, baca semua teori tentang gaya dada, gaya punggung, tetapi bila langsung masuk sungai, kita akan tenggelam, walaupun kita hafal buku-buku itu.
Tapi dipihak lain, tidak perlu baca buku, mulai pelan-pelan dari pinggir, berenang dua meter, besoknya lima meter dan akhirnya satu minggu sudah bisa bolak-balik 20 meter. Tapi kalau ingin menjadi juara, nah perlu ada pelatihnya, kalau hanya berenang di kampung silahkan, sehebat apapun tapi tidak bisa menjadi juara. Tapi kalau mau menjadi juara, mau menjadi pedagang besar ya harus belajar, harus baca buku, harus ada pelatih, harus ada pertandingan, baru bisa juara. Begitu juga dengan pengalaman kita yang sebagian besar bisa naik sepeda, mau belajar teori keseimbangan, tetap tidak akan bisa naik sepeda, karena tetap akan jatuh. Orang baru bisa naik sepeda kalau lututnya sudah luka, nah itu kalau sudah ada luka berarti sudah bisa naik sepeda, coba saja. Jadi artinya untuk menjadi pengusaha itu harus jatuh-bangun dulu, berusaha, mulai kecil-kecil, kemudian setelah itu baru bisa menjadi besar, Tapi juga ada resiko, karena tidak ada usaha tanpa ada resiko, makin besar resikonya maka untungnya makin baik, sama-lah dengan usaha yang paling besar di Papua, misalnya Freeport, Freeport adalah usaha yang meraih untung paling tinggi. Kenapa paling tinggi untungnya?
Karena resikonya juga paling tinggi. Siapa yang mau berusaha, membuka usaha di gunung-gunung, di hutan-hutan, dingin-dingin, dengan segala macam resikonya, tetapi karena dia mau menanggung resiko maka untungnya pun besar. Kalau mau resiko yang kecil, ya kita usaha angkot saja, itu kan resikonya kecil, paling ditangkap polisi, untungnya juga kecil. Jadi kalau mau tanggung resiko kecil, untung juga kecil, mau resiko besar kemungkinan mendapat untung besar, tapi kemungkinan rugi besar juga bisa terjadi.
Jadi yang harus kita pelajari pertama, seperti tadi saya katakan, mari kita ajak semua masyarakat di Papua untuk tahu bahwa kalau kita ingin meningkatkan kesejahteraan, maka selain menjadi pegawai negeri juga dapat terjun dibidang usaha. Terjun dibidang usaha juga tidak gampang, bisa jadi hari ini dapat hasil, besok tidak ada hasil. Kalau menjadi pegawai negeri tiap bulan rajin atau tidak rajin tetap ada gaji, persoalannya cuma yang rajin bisa naik pangkat, yang tidak rajin tidak bisa naik pangkat, itu saja bedanya. Tapi kalau pengusaha, satu tahun bisa beli mobil, tapi bisa juga susah, begitu kan, jadi itu faktanya. Tapi seperti tadi sudah saya katakan, tidak ada orang yang bisa senang tanpa pernah susah dulu.
Masalah ini, budaya ini harus kita sebarkan, karena itu kita harus mampu menyebarkan budaya. Hal ini harus berdasarkan pada kegigihan latihan, saya ulangi latihan. Tidak mungkin kita peroleh pengalaman pengusaha hanya di bangku sekolah, begitu banyak mahasiswa tetapi begitu ditanya apakah mau menjadi pengusaha? Jangan-jangan mereka lebih banyak memilih, katakanlah, menjadi pegawai negeri atau pegawai swasta. Karena itu harus dibiasakan, dibiasakan itu melalui upaya harus dimulai bersama-sama, atau melalui magang atau cara-cara lain.
Saya tahu betul bahwa beberapa tahun yang lalu pengusaha-pengusaha muda dari Papua banyak di kirim ke Makassar untuk bekerja bersama-sama dengan pengusaha-pengusaha di Makassar, ini penting agar suasananya timbul. Jadi pengusaha itu butuh suasana. Hal itu sama saja dengan kondisi bahwa kalau bapaknya tentara anaknya juga akan jadi tentara, masuk AKABRI juga. Atau katakanlah seorang bapak petani, maka anaknya ikut jadi petani juga. Dalam kasus saya, Bapak saya seorang pengusaha, saya terpaksa jadi pengusaha, bukan terpaksa, pasti jadi pengusaha karena setiap hari saya tahu bagaimana cara untuk menjadi pengusaha. Anak saya juga seorang pengusaha, karena tiap hari mereka cuma lihat Bapaknya bicara tentang usaha, jadi suasana membawa orang ke arah situ. Suasana mempengaruhi cara berpikir, suasana, pengetahuan tentang suasana. Nah mari kita membikin suasana seperti itu di Papua.
Memang pada awalnya, seperti juga tadi sudah saya katakan, dibutuhkan suatu keberpihakan, keberpihakan itu penting, karena tanpa keberpihakan sulit untuk mencapai tujuan dengan cepat. Keberpihakan memang kadang-kadang ada resikonya, sama juga negara ini, kalau kita beli barang luar negeri itu harganya bisa berbeda 10% dari pada kita buat dalam negeri. Tentu sama juga di Papua, kalau pengusaha-pengusaha di Papua ingin menjadi kontraktor tentu harus diberikan kemudahan yang lebih baik daripada katakanlah pengusaha dari Makassar dan pengusaha dari Surabaya, kepada mereka harus diberi kemudahan yang lebih baik, itu terjadi dimana-mana.
Tapi apapun kemudahan itu tanpa dilaksanakan tidak akan berhasil, misalnya jangan kemudahan itu dijual lagi, menang tender tetapi dijual lagi ke orang lain, akhirnya hal ini menjadi seperti makelar namanya, susah itu, dikasih sedikit ijin HPH tapi akhirnya HPH-nya dijual, uangnya memang tetap dapat tapi cuma sedikit, tapi bila ada perkara di Kejaksaan maka yang punya ijin juga terpaksa ditangkap, oleh karena itu hati-hatilah kalau terjadi seperti itu. Jadi semuanya ada masalah-masalah tapi yang paling penting ialah kita semua harus meningkatkan suasana, kemauan, masa depan. Untuk menjadi pengusaha juga harus diiming-iming, bahwa kalau memang betul jadi pengusaha maka harus bisa dinikmati hasilnya.
Itulah harapan saya dan yang ingin saya katakan, dan hal ini bukanlah sesuatu yang baru, karena selalu saya kemukakan pada setiap forum-forum di Papua atau dimana saja saya berbicara dan membahas tentang dunia usaha. Dulu saya pernah bicara dengan Saudara Morin, bagaimana membangun KTI, Indonesia Timur, tapi kita tidak bisa bangun hanya dengan pidato, kita harus bangun dengan keringat, dengan bekerja keras, sehingga hasil akhir daripada upaya ini dapat dilihat oleh masyarakat yaitu apabila toko-toko, usaha-usaha di KTI, Papua sudah seimbang, sudah mulai banyak toko-toko, angkot, atau kebun-kebun, atau kapal-kapal perikanan, sudah mulai seimbang apa yang dikerjakan oleh pengusaha-pengusaha dari dalam dengan pengusaha-pengusaha dari luar, karena pengusaha dari luar juga penting untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan juga memberikan suasana.
Jadi jangan hanya ingin membeli katakanlah barang-barangnya orang Bugis di sana, jadi tanya kepada mereka dari mana barang-barang tersebut dan beli darimana, bagaimana caranya berjualan, berapa harganya. Para pengusaha Papua mesti belajar seperti itu, perlu waktu, beri waktu, harus ada kerjasama dengan KADIN, bekerjasama dengan konsorsium, semua ini membutuhkan waktu, berapa lama pendidikan, berapa banyak orang yang dikirim ke Jawa, ke Makassar untuk dilatih, untuk magang. Sebenarnya gampang saja, minta Freeport untuk membiayai tiket untuk kirim 100 orang tahun ini ke Jawa untuk belajar, tidak usah marah-marah terus kepada Freeport, sebab kalau marah-marah terus kepada Freeport, kita tidak akan memperoleh bagi hasilnya, kalau kita tidak memperoleh bagi hasilnya, maka kita juga tidak tahu bagaimana mencari tambang yang begitu sulit lokasinya/ tempatnya, jadi kita harus melihatnya seperti itu, membuka kesempatan, tapi juga mengambil kesempatan.
Tadi dikatakan Saudara Ma?ruf bahwa kita harus ?mendapat kesempatan?, sebenarnya bukan ?mendapat kesempatan? tapi kita harus ?mengambil kesempatan?, kalau ?mendapat? kita mesti menunggu, kapan saya dapat. Kita harus ?mengambil kesempatan? itu, untuk ?mengambil? kita harus aktif, kalau untuk ?mendapat? pasti kita menunggu dapat lisensinya. Kalau seperti itu terus lambat jadinya, kalau mau cepat ya harus mengambil, jadi kalau bikin di sana ruko, di Jayapura banyak ruko dimana-mana atau pasar-pasar baru, saya mau konsorsium KADIN bikin 20 kios, cari siapa yang mau dagang, bikin kios, hubungi saja Unilever atau siapa tolong dikasih barang, karena ini dari Bank Papua atau BRI. Resikonya memang kalau tidak bangun pagi ya kalah sama orang Bugis yang sudah bangun subuh, itu saja masalahnya.
Tuhan ini adil, kita semua beragama, Tuhan ini adil-kan! Tentu Tuhan akan memberikan rezeki yang lebih baik kepada orang yang bangunnya jam 5 pagi daripada yang bangun jam 9, iya kan. Kalau Tuhan memberikan rezeki kepada orang yang bangun jam 9 lebih baik daripada jam 5 berarti Tuhan tidak adil, sedangkan kita semua ingin yang adil, jadi kalau mau sama-sama adilnya orang yang bangun jam 5, jam 6, samakan saja jam 5 atau jam 6-lah, atau setengah tujuh barangkali masih adil, tapi kalau bangunnya baru jam 9 orang yang belanja sudah habis, kalau pedagang datang ke toko baru jam 9, ya yang berbelanja sudah habis.
Orang Bugis, yang Haji-haji itu kan jam 5 sudah membuka tokonya. Jadi soalnya bukanlah bahwa dia itu bagaimana-bagaimana, tidak, tetapi karena pedagang Bugis itu lebih rajin, itu saja. Bukan juga soal bicara, karena ternyata bicara melayunya orang Papua lebih bagus daripada orang Bugis, coba lihat di situ kan, tapi yang pasti orang Bugis itu lebih rajin, lebih rajin bersihkan tokonya, lebih rajin bersihkan barang-barangnya, dan lebih suka ketawa kalau ada pembeli, kalau ditolak barangnya dia tidak marah-marah, iya kan, tiru saja yang seperti itu. Kalau pedagang Bugis kipas-kipas berarti sudah ada ikan-ikan yang dijual, bandeng di situ bagus kelihatannya, iya kan, dia bungkus baik-baik, itu saja yang ditiru, dan dia bisa naik haji meskipun hanya punya satu kios ikan saja, itu saja rahasianya. Tidak ada rahasia yang tertutup, terbuka semua. Harus diajarkan kepada pengusaha Papua untuk menjadi rajin, menjadi lebih baik, untuk bangun lebih cepat, pagi-pagi, jangan suka marah-marah, begitu kan, dengan begitu saya kira semua bisa dibangun. Semua bisa, tidak ada yang tidak bisa untuk ini semua. Jadi mari kita mulai dari yang kecil-kecil sedangkan yang besar lain lagi, kontraktor bicara suplai, mesti cari langkah-langkahnya, Bank walaupun namanya Bank Papua, tapi kalau para pengusaha Papua tidak bayar utang, Bank Papua bisa bangkrut juga, begitu kan.
Jadi hal-hal inilah yang menurut saya secara umum perlu disebarkan pelan-pelan, tidak bisa otomatis jadi kultur, jiwanya yang dirubah. Mudah-mudahan dengan pembukaan ini, konsorsium ini, dapat memberikan hasil dan mencapai tujuan dan cita-cita bersama untuk memajukan seluruh masyarakat Papua melalui kemampuan sendiri, mencapai kesejahteraan masa depan bagi kita semua. Dengan ini saya membuka Musyawarah Pusat dan Rapat Kerja I dari Masyarakat Pengusaha Papua ini, sekian.
Wassalamualaikum Wr. Wb.



