Detail Buku
Enam Bulan Jadi Menteri
Jusuf Kalla. Pengalaman Seorang Menteri.Anekdot Kepemimpinan Negeri
![]() |
Buku berjudul: Enam Bulan Jadi Menteri (M. Jusuf Kalla dalam Kabinet Gus Dur), ini disusun secara ringan dan bersahaja oleh S Sinansari ecip. Namun isinya bermakna, sekaligus menggelitik, lucu dan lebih lagi mengundang keprihatinan. Begitu buruknya birokrasi dan kepemimpinan nasional di negeri ini. Inilah buku yang isinya diwarnai 'anekdot kepemimpinan negeri'.
Secara umum buku ini berisi pengalaman M Jusuf Kalla ketika menjabat Menteri Perindustrian dan Perdagangan, merangkap Kabulog, selama enam bulan dalam Kabinet Gus Dur. Sebagaimana disebut penyusunnya, isinya cukup menarik, tidak hanya sebagai dokumentasi, tetapi juga sebagai bentuk pertanggungjawaban seorang pejabat tinggi kepada masyarakat.
Buku ini memang menjadi menarik, karena Sang Menteri dipecat secara tidak wajar oleh Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Alasannya tidak jelas. Pada mulanya, Sang Menteri disebut tidak bisa bekerjasama dengan tim ekonomi lainnya. Kemudian, dalam rapat tertutup dengan DPR, malah dituduh korupsi, kolusi dan nepotisme. Isi pembicaraan tertutup itu bocor ke pers. Akibatnya, tentu saja bertambah ramai.
Tidak ada penjelasan yang terang dari Presiden tentang hal ini. Kecuali, secara politis teka-teki ini mengundang keingintahuan DPR yang akhirnya menguak Buloggate. Kasus Rp 35 milyar dana Yanatera Bulog yang melahirkan Memorandum I dan II dan berakhir dengan jatuhnya pemerintahan Gus Dur.
Namun teka-teki pemecatan (terutama alasan KKN) Jusuf Kalla dan Meneg BUMN Laksamana Sukardi tidak juga tuntas.
Buku ini, boleh menjadi salah satu jawaban sekaligus pertanggungjawaban. Kendati juga belum tuntas benderang. Tapi setidaknya secara tersirat menjadi lebih terang.
Lebih menarik, karena buku ini disajikan bersahaja. Realitas pengalaman Sang Menteri yang ternyata diwarnai kelucuan dan keprihatinan birokrasi dan kepemimpinan nasional ketika itu. Berisi berbagai anekdot menarik tentang kepemimpinan dan birokrasi.
Anekdot Satu
Suatu ketika, Menperindag M Jusuf Kalla mengunjungi pabrik semen Padang. Di mobil, Kakanwil bilang kepadanya, Dirut tidak ada karena ada urusan lain.
Sesampai di pabrik, seseorang menjemput dengan ramah dan hormat. "Dia protokol perusahaan," kata Kakanwil. Dalam hati, Jusuf Kalla membatin, sebagai menteri ia terlalu disepelekan.
Lalu, penjemput tadi maju ke podium, berpidato. "Siapa yang berpidato itu?" tanyanya kepada Kakanwil.
Kakanwil bertanya kepada seseorang. "Pak, itu dirutnya!" ujarnya sambil tersipu malu.
Anekdot Dua
Sidang kabinet dilakukan setiap Rabu. Laporan menteri sudah dibuat standar, sudah baku, dari sejak masa Pak Harto, misalnya tentang harga-harga dan inflasi. Sidang berlangsung dua-tiga jam.
Sidang dibuka Gus Dur kemudian pimpinan dilanjutkan Mega. Laporan umum dimulai Pak Kwik, sepuluh menit. Gus Dur masih serius. Menyusul laporan Menkeu, penuh angka terinci tentang uang, inflasi dan lain-lain. Gus Dur mulai tidak tertarik. Kepalanya sudah tidak tegak lagi dan terkesan ingin istirahat.
Lalu giliran Menperindag melapor. Selalu sial. Gus Dur sedang asyik istirahat di tempat. Mega mendengarkan dengan sesekali mencatat. Giliran menteri-menteri lain berbicara. Kemudian Mega memberi kode tertentu agar istirahat Gus Dur diakhiri. Gus Dur lalu bangun.
Melihat presiden sudah sadar kembali, menteri-menteri lain mengangkat tangan minta bicara, misalnya Khofifah, Erna Witoelar dan Ryaas Rasyid. Ada pula menteri yang tidak bicara sama sekali.
Kemudian yang muncul di depan wartawan adalah catatan-catatan Marsilam Simanjuntak. Berupa rentetan catatan pembicaraan.
Anekdot Tiga
Kebijakan pajak di Batam sudah diputuskan Menkeu Bambang Sudibyo. Kemudian Bambang bertugas ke luar negeri. Lalu Menperindag ditunjuk selaku Menkeu ad interim.
Dalam sidang kabinet, Gus Dur marah: "Saudara tahu kan kebijakan saya, jangan dikenakan pajak di Batam. Itu akan mengurangi investasi. Saudara tidak mengerti kemauan saya." Macam-macamlah kata-kata yang keluar ketika itu.
Begitu Gus Dur berhenti bicara, Menkeu ad interim minta bicara lagi. "Boleh saya bicara, Presiden? Saya bingung, Bapak selalu minta kita taat pada Letter of Intent IMF. Pengenaan pajak di Batam ini ada di LoI, ada di butir 18."
Ia menyebut butir 18 untuk lebih jelas dan meyakinkan. Padahal sebenarnya ia asal sebut saja. Karena ia yakin tidak ada menteri yang hafal nomornya.
Presiden diam, tidak menanggapi. Menteri-menteri lain pun diam seraya melihat ke arah Menperindag yang merangkap Menkeu ad interim itu. Dalam hati ia berharap, agar presiden tidak menjadi diktator. Eh, beberapa hari kemudian Sang Menteri dicopot dari jabatannya.
Anekdot Empat
Suatu ketika, Sang Menteri dan 35 orang rombongan misi dagang lagi berkunjung ke Afrika Selatan. Hari itu, tepatnya tanggal 30 Maret 2000, saat masih tidur di Hotel Hilton Johanesburg, Sang Menteri dipanggil pulang segera oleh presiden.
Ia pun pulang, sementara rombongan meneruskan misinya. Begitu tiba di Jakarta esok harinya, ia langsung telepon Alwi Shihab. "Ada apa ini? Kenapa saya dipanggil?
Alwi mengajaknya bertemu di Hotel Borobudur. Di situ, Alwi mengatakatan Gus Dur mempersoalkan kepergiaannya ke luar negeri. Karena itu, ia akan diganti.
Petang harinya, bersama Alwi, ia bertemu Gus Dur. Begitu ketemu, Gus Dur bertanya: "Sudah tahu mengapa saya panggil?
"Saya tidak tahu Gus."
"Begini. Saudara ke luar negeri padahal sementara banyak pekerjaan LoI yang belum Saudara kerjakan. Kenapa?"
"Pak Presiden, saya ke luar negeri atas izin Bapak, lisan dan tertulis dari Sekneg.Ada enam tugas saya sebagai menteri perdagangan dari LoI. Lima telah selesai. Satu lagi belum, karena tergantung DPR." jelas Sang Menteri.
"Yang lainnya?"
"Sudah saya serahkan kepada IMF."
Lalu, Gus Dur diam. Tidak ada pengakuan salah atau minta maaf. Begitu saja. Kemudian, Sang Menteri melirik Alwi, memberi kode, agar mereka ke luar.
Sesampai di luar, ia bertanya: "Wi, saya dipecat atau apa?
"Kalau begitu, tidak ada apa-apa," jawab Alwi.
Anekdot Lima
Jabatan Kabulog yang dirangkap Memperindag diserahterimakan kepada Rizal Ramli. Hari itu, 3 April 2000, ia sedang dalam mobil menuju tempat serah terima. Menlu Alwi Shihab menelepon, bertanya: "Berapa uang Bulog yang dikasih lewat Suwondo?"
"Tidak ada!" jawabnya.
"Tolong cek. Ada itu," kejar Alwi.
Ia pun teringat pada peristiwa tiga bulan sebelumnya, Sapuan minta uang kepadanya. Ia pun langsung menghubungi Sapuan: "Anda keluarkan uang tidak?"
"Ya, Pak!" jawab Sapuan.
"Berapa banyak?"
"Tiga puluh lima milyar."
"Uang siapa?"
"Yanatera."
"Untuk siapa?"
"Untuk presiden melalui Suwondo."
Lalu, ia menenelon Alwi. "Alwi, memang ada pengeluaran dari Yanatera."
"Berapa?" tanya Alwi.
"Tiga puluh lima."
"Kalau begitu tidak sampai semua."
Begitulah petikan 'anekdot' dalam buku ini. Cukup pantas memberi gambaran perihal kepemimpinan nasional dan birokrasinya.




