Artikel Selengkapnya

23-06-09 13:54

Donggi Sonoro Bukan Untuk Asing


Kekayaan alam yang dimiliki Indonesia jangan hanya dijadikan lagu, akan tetapi harus dijadikan realitas. Jangan hanya dipidatokan, akan tetapi harus direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Kekayaan alam Indonesia adalah untuk Indonesia sendiri.
Dalam mengelola sumber daya alam, kita harus selalu mengutamakan kebutuhan dalam negeri dulu, baru kemudian kalau ada sisanya kita ekspor keluar. Jangan seperti selama ini, semua kekayaan alam kita dihisap oleh pihak asing. Banyak perusahaan asing yang mengelola pertambangan kita, mulai merajalela mengembangkan teknologi dan modalnya. sehingga devisa yang seharusnya masuk ke negeri kita justru lebih banyak dinikmati oleh pihak asing.
Yang paling menyedihkan, kini bermunculan perusahaan asli tapi palsu. Yakni sebuah perusahaan tambang yang apabila dilihat dari luar nampakn sangat profesional, dan milik bangsa sendiri. Tapi jika melihat lebih dalam, perusahaan tersebut tidak lebih daripada agen-agen asing. sebab proyek mereka sebenarnya ditangani oleh pihak asing. Mulai dari tingkat manajemen sampai dengan teknis di lapangan.
Saya sedih melihat kekayaan alam kita yang habis dikuras oleh orang asing. kita hanya diwariskan lubang-lubang bekas tambang, dan mesin rongsokan. Untuk itu selama ini saya selalu menegaskan bahwa segala hal tambang dalam bentuk MIGAS harus dikelola oleh PERTAMINA. Tidak boleh ada lagi asing yang menanganinya. Dan semua hasil tambang kita harus dipakai untuk kebutuhan dalam negeri, jangan semuanya dijual kepada pihak asing.
Kita tidak usah lagi mengulangi kesalahan masa lalu kita, yang mana segala macam hasil tambang kita terutama gas alam, semuanya kita ekspor. Dan hasilnya di dalam negeri sendiri kekurangan gas. Pabrik pupuk tidak bisa meningkatkan produksinya karena kekurangan gas, padahal kita tengah gencar-gencarnya mempertahankan swasembada pangan.
saat ini kita memiliki tambang gas alam yang baru yakni Donggi sonoro, yang merupakan cadangan gas alam yang cukup besar. Namun yang jadi masalah sempat beberapa waktu lalu, beberapa orang dari Menteri kabinet Indonesia bersatu, mengusulakn untuk menjual gas alam dari hasil donggi sonora ini kepada pihak asing dalam hal ini Jepang.
Inilah yang membuat saya gerah, bagaimana tidak, di dalam negeri sendiri saat ini kita kesulitan gas, kebutuhan kita akan gas semakin meningkat, karena adanya program konversi minyak tanah ke gas dan Industri pupuk sedang kita pacu produksinya, justru mereka ingin menjual bahan dasar untuk program tersebut kepada pihak asing. Apa-pun alasannya, apakah itu demi meningkatkan pendapatan negara dan lain-lain, itu susah diterima sebab kita sendiri di dalam negeri sedang kesulitan gas.
Untuk itu beberapa saat lalu, waktusaya rapat dengan beberapa menteri, saya bilang ke mereka, ?saya tidak mau tau, yang jelas hasil dari Donggi sonoro jangan dijual kepada asing, apalagi kalau dijual murah?
mereka bilang ?wah bagaiamana ini pak Wapres kita sudah membuat kesepakatan dengan jepang nanti mereka marah?
saya jawab ?biar saja mereka marah, kalau mau macam-macam suruh menghadap saya, biar saya yang hadapi?
Jadi itulah sebabnya mengapa saya menolak untuk menjual hasil donggi sonora ke pihak asing. Sebab dengan adanya hasil baru dari Donggi sonora, kita bisa membuat pabrik pupuk di Sulawesi tengah, yang mana produksinya kita peruntukan bagi ketersediaan pupuk di kawasan timur Indonesia. Kita bisa mempercepat program konversi minyak tanah ke gas, kita bisa membuat infra struktur listrik dan macam-macam.
Jadi keinginan saya bahwa Indonesia harus bisa menjadi banga yang bermartabat, yang dipandang oleh pihak asing, dihargai oleh bangsa lain. Bukan seperti selama ini, kita sudah nyaris menjadi bangsa ber-?Martabak? yang dibanding kanan-kiri tapi tidak melawan. Untuk itu Kita harus membangun ekonomi kita menjadi yang terkuat di Asia Tenggara bahkan di Asia. Dan salah satu strategi yang paling efektif untuk Indonesia adalah Industrialisai berbasis sumber daya alam. Tak ada bangsa yang memiliki kekayaan alam seperti kita, maka itu harus kita pertahankan. (Jusuf Kalla)