Berita Selengkapnya
Juru Damai yang Rendah hati
KIPRAH Jusuf Kalla sebagai juru damai mendapat apresiasi positif dari tokoh NU, Said Agil Siraj. Salah satu Pengurus Besar NU ini menilai JK adalah Wapres RI sekaligus tokoh dalam penyelesaian konflik besar di Aceh, Ambon, dan Poso.
![]() |
Hanya saja, JK tak terlihat ingin menonjolkan diri melebihi sang presiden.
Said menilai, peran JK cenderung tenggelam di bawah bayang-bayang sang presiden. Sampai-sampai, menurut Said, Presiden SBY lah yang dinominasikan menerima penghargaan Nobel karena perdamaian di Aceh.
Said menilai, peran besar itu tenggelam sebab JK memang tidak berupaya membangun pencitraan itu. Semua berjalan apa adanya. Hal yang justru menambah nilai positif JK. "Tapi, pada akhirnya saya yakin masyarakat akan tahu," tambahnya.
Meski demikian, Said Agil Siraj justru memuji kerendahan JK untuk tidak menggembar gemborkan perannya.
"Akhlak seorang muslim yang baik adalah kalau berbuat semata-mata karena Allah. Tidak menonjolkan diri dan riya' (pamrih)," tegas Said Agil saat dihubungi, Minggu, 31 Mei.
Said menilai, sikap JK yang enggan meninggikan diri kendati berperan besar sebenarnya menjadi jawaban untuk tudingan JK yang dianggap sebagai matahari kembar dalam pemerintahan SBY-JK lalu.
Dalam menangani konflik, pendekatan JK realistis dan cepat. JK melihat salah satu faktor pemicu konflik adalah masalah kesenjangan ekonomi. Said percaya, pendekatan persuasif ekonomis daripada represif militeristik.
Pengakuan Dunia internasional mengalir untuk perdamaian sosial yang telah dicetak JK. Bahkan, penyelesaian konflik bermotif agama di Ambon dan Poso akan menjadi salah satu bahasan penting dalam Dialog Antaragama (Interfaith Dialogue) antara Indonesia dan Rusia di Kedutaan Besar RI di Moskow, 1-2 Juni mendatang.
Melihat masih rentannya potensi konflik ke depan, Said menyimpulkan pasangan JK-Wiranto paling pas memimpin Indonesia. Apalagi, dari segi tantangan ekonomi, pendekatan JK yang pragmatis berorientasi pada kesejahteraan rakyat memang sangat dibutuhkan.
Setelah menggulirkan perundingan, Aceh akhirnya damai, 15 Agustus 2005, di Helsinki, Finlandia. Kala itu, JK yang berada di baris terdepan memberikan penjelasan terkait adanya keraguan atas upaya perdamaian konflik yang sudah menelan 15 ribu korban jiwa itu.
Di Poso, JK juga menjadi pemrakarsa pertemuan Malino pertama untuk mendamaikan konflik antara umat Islam dan Nasrani. Keraguan yang muncul ditepis JK, setelah mempelajari sejarah sosial ekonomi dan budaya di daerah konflik dan berbuah sukses.
Lalu, disusul perundingan Malino yang juga sukses mendamaikan Ambon. Dua hari di bulan Februari 2002, 70 tokoh Muslim dan Nasrani menandatangani 11 butir kesepakatan perdamaian Ambon. (ysd)




